Rabu, 31 Oktober 2012
Selasa, 30 Oktober 2012
Jorge Lorenzo
Nama Lengkap : Jorge Lorenzo
Tanggal Lahir :
Tempat Lahir :
Naik Podium :
Gelar Juara :
Karir :
Team :
Kebangsaan :
Tinggi Badan :
Berat Badan :
Merk Helm :
Sponsor :
Tanggal Lahir :
Tempat Lahir :
Naik Podium :
Gelar Juara :
Karir :
Team :
Kebangsaan :
Tinggi Badan :
Berat Badan :
Merk Helm :
Sponsor :
On board camera
Seperti halnya balapan F1, di motogp juga ada onboard camera. Onboard camera tuh maksudnya camera yang dipasang di motor, di tempat-tempat tertentu sehingga kita bisa melihat view atau pandangan
Aksi Jatuh
Dengan kecepatan motor yang begitu tinggi, ditambah faktor banyaknya pembalap dalam satu sirkuit, juga
kondisi cuaca (terutama pada saat hujan), gak heran kalau kecelakaan di motogp merupakan hal yang lumrah.
Di setiap seri, entah waktu sesi latihan ataupun waktu sesi balapannya pasti ada saja pembalap yang terjatuh
kondisi cuaca (terutama pada saat hujan), gak heran kalau kecelakaan di motogp merupakan hal yang lumrah.
Di setiap seri, entah waktu sesi latihan ataupun waktu sesi balapannya pasti ada saja pembalap yang terjatuh
Aksi Menikung
Salah satu keunikan dan pesona utama motogp menurut aku adalah aksi menikung yang dilakukan oleh pembalap. Yang udah pernah liat motogp (minimal siaran di TV) pasti setuju kalau aku bilang aksi menikung pembalap-pembalap motogp ini bener-bener gila.
Aku gak tau berapa derajat kemiringan motor mereka waktu membalap.Kalau urusan lutut yang menyentuh aspal sih udah biasa, tapi kadang terlihat siku pembalap sampai menyentuh aspal. Hal ini lebih jelas terlihat kalau ada tayang ulang gerak lambat (sangat lambat malah). Gak tau beneran nyentuh apa gak sih, tapi yang jelas udah deket banget lah ama aspal.
Aksi menikung seperti ini memang dibutuhkan oleh pembalap. Disamping untuk melawan gaya sentrifugal, juga agar kecepatan motor tidak banyak berkurang pada saat melalui tikungan. Tapi aksi menikung yang terlalu miring akan menimbulkan masalah buat pembalap, apalagi kalau bukan jatuh. Semakin tinggi derajat kemiringan berarti akan semakin kecil bidang kontak antara ban motor dengan aspal, alhasil ban kehilangan gigitan ke aspal, ujung-ujungnya ya jatuh.
Dalam setiap balapan, baik sesi kualifikasi maupun pada saat balapan itu sendiri, selalu ada saja pembalap yang terjatuh karena terlalu miring pada saat menikung. Yang paling tragis adalah kejadian kecelakaan Marco Simoncelli di sirkuit Sepang Malaysia pada tahun 2011. Karena terlalu miring, akibatnya motor Marco jatuh, dan celakanya dia terjepit motornya sehingga terseret cukup jauh. Celakanya dari belakang ada pembalap lain yang sedang melaju dan langsung menghantam dia.
Positif atau negatif, yang jelas, aksi menikung para pembalap motogp ini memang patut dikagumi. Butuh nyali luar biasa untuk melakukan hal seperti itu.
Aku gak tau berapa derajat kemiringan motor mereka waktu membalap.Kalau urusan lutut yang menyentuh aspal sih udah biasa, tapi kadang terlihat siku pembalap sampai menyentuh aspal. Hal ini lebih jelas terlihat kalau ada tayang ulang gerak lambat (sangat lambat malah). Gak tau beneran nyentuh apa gak sih, tapi yang jelas udah deket banget lah ama aspal.
Aksi menikung seperti ini memang dibutuhkan oleh pembalap. Disamping untuk melawan gaya sentrifugal, juga agar kecepatan motor tidak banyak berkurang pada saat melalui tikungan. Tapi aksi menikung yang terlalu miring akan menimbulkan masalah buat pembalap, apalagi kalau bukan jatuh. Semakin tinggi derajat kemiringan berarti akan semakin kecil bidang kontak antara ban motor dengan aspal, alhasil ban kehilangan gigitan ke aspal, ujung-ujungnya ya jatuh.
Dalam setiap balapan, baik sesi kualifikasi maupun pada saat balapan itu sendiri, selalu ada saja pembalap yang terjatuh karena terlalu miring pada saat menikung. Yang paling tragis adalah kejadian kecelakaan Marco Simoncelli di sirkuit Sepang Malaysia pada tahun 2011. Karena terlalu miring, akibatnya motor Marco jatuh, dan celakanya dia terjepit motornya sehingga terseret cukup jauh. Celakanya dari belakang ada pembalap lain yang sedang melaju dan langsung menghantam dia.
Positif atau negatif, yang jelas, aksi menikung para pembalap motogp ini memang patut dikagumi. Butuh nyali luar biasa untuk melakukan hal seperti itu.
Senin, 29 Oktober 2012
Selamat Datang di Blog tentang MotoGP
Sejak kecil, gak tau kenapa, aku lebih seneng liat balap mobil, terutama Formula Satu (F1). Aku masih ingat pengalaman pertama lihat siaran balapan F1 di TV. Jelas, waktu itu siaran yang ada juga masih terkesan asal-asalan. Jadual siaran gak jelas, mungkin tayangnya juga agak jauh dengan lomba aslinya, dan yang pasti bukan siaran langsung
Sampai sekitar 2 tahun yang lalu, aku masih lebih seneng liat balapan F1. Seneng F1, bukan berarti aku gak ngeh dengan MotoGP. Jauh sebelum namanya menjadi MotoGP seperti sekarang, aku udah cukup ngikutin juga MotoGP. Gak heran kalau aku dulu sempet mengidolakan Kevin Schwantz, pembalap Suzuki asal AS. Aku sendiri gak tahu kenapa kok suka ama Kevin Schwantz ini, sementara kebanyakan orang mengidolakan siapa lagi kalau bukan Wayne Rainey, dan juga Michael Doohan. Aku malah dulu sempet punya dan memasang poster Kevin Schwantz ini. Singkatnya sih, aku cinta buta deh ama si Kevin ini, mungkin karena namanya aja yang cukup keren kali.
Nama-nama seperti Valentino Rossi, Max Biaggi, so pasti aku tau. Tapi tetep, aku gak pernah rutin liat balapannya. Aku lebih sering liat siaran langsung Formula 1. Tapi suatu saat, aku tiba-tiba merasa lebih nikmat melihat balapan MotoGP dibanding F1. Kayaknya alasannya cuma 1, aku bosen liat balapan F1. Balapan F1 itu biasanya kalau pembalap yang jago atau mesinnya bagus udah di depan, ya udah deh, sampai selesai juga tetep aja di depan, kecuali ada kecelakaan atau hal teknis lain. Selain itu, alasan aku belakangan lebih gemar liat MotoGP karena liat MotoGP jauh lebih mendebarkan dan menantang.
Singkatnya, karena semakin terpesona oleh motogp, jadinya aku pengen buat blog tentang motogp karena sejauh yang aku tau, belum ada blog yang cukup lengkap memuat tentang motogp. Tapi tetep, alasan utamaku buat blog ini adalah passion-ku terhadap motogp
So, selamat menikmati
Sejak kecil, gak tau kenapa, aku lebih seneng liat balap mobil, terutama Formula Satu (F1). Aku masih ingat pengalaman pertama lihat siaran balapan F1 di TV. Jelas, waktu itu siaran yang ada juga masih terkesan asal-asalan. Jadual siaran gak jelas, mungkin tayangnya juga agak jauh dengan lomba aslinya, dan yang pasti bukan siaran langsung
Sampai sekitar 2 tahun yang lalu, aku masih lebih seneng liat balapan F1. Seneng F1, bukan berarti aku gak ngeh dengan MotoGP. Jauh sebelum namanya menjadi MotoGP seperti sekarang, aku udah cukup ngikutin juga MotoGP. Gak heran kalau aku dulu sempet mengidolakan Kevin Schwantz, pembalap Suzuki asal AS. Aku sendiri gak tahu kenapa kok suka ama Kevin Schwantz ini, sementara kebanyakan orang mengidolakan siapa lagi kalau bukan Wayne Rainey, dan juga Michael Doohan. Aku malah dulu sempet punya dan memasang poster Kevin Schwantz ini. Singkatnya sih, aku cinta buta deh ama si Kevin ini, mungkin karena namanya aja yang cukup keren kali.
Nama-nama seperti Valentino Rossi, Max Biaggi, so pasti aku tau. Tapi tetep, aku gak pernah rutin liat balapannya. Aku lebih sering liat siaran langsung Formula 1. Tapi suatu saat, aku tiba-tiba merasa lebih nikmat melihat balapan MotoGP dibanding F1. Kayaknya alasannya cuma 1, aku bosen liat balapan F1. Balapan F1 itu biasanya kalau pembalap yang jago atau mesinnya bagus udah di depan, ya udah deh, sampai selesai juga tetep aja di depan, kecuali ada kecelakaan atau hal teknis lain. Selain itu, alasan aku belakangan lebih gemar liat MotoGP karena liat MotoGP jauh lebih mendebarkan dan menantang.
Singkatnya, karena semakin terpesona oleh motogp, jadinya aku pengen buat blog tentang motogp karena sejauh yang aku tau, belum ada blog yang cukup lengkap memuat tentang motogp. Tapi tetep, alasan utamaku buat blog ini adalah passion-ku terhadap motogp
So, selamat menikmati
Langganan:
Komentar (Atom)